LP3M Unila adakan Pelatihan PEKERTI batch 2

(LP3M Unila-Bandar Lampung) Dalam rangka meningkatkan kapasitas profesionalisme dosen, LP3M Universitas Lampung menyelenggarakan Pelatihan Peningkatan Keterampilan Dasar Teknik Instruksional (PEKERTI) Batch 2. Pelatihan tersebut dilaksanakan untuk meningkatkan keterampilan dosen dalam proses pembelajaran dengan prespektif pendidikan di Era Industri 4.0. Kegiatan PEKERTI tersebut dilaksanakan di ruang siding Rektorat lantai IV Universitas Lampung, terhitung tanggal 15 sampai dengan 21 Oktober 2019.

Kegiatan PEKERTI kali ini dibuka secara resmi oleh Ketua LP3M universitas Lampung, Prof. Dr. Murhadi, M.Si. Peserta PEKERTI Unila batch 2 kali ini diramaikan oleh dosen-dosen muda dan dosen yang lolos dalam seleksi ASN tahun 2018 lalu. Murhadi dalam sambutannya Murhadi menyampaikan bahwa pelatihan ini dilaksanakan untuk mempersiapkan dosen muda dan “milenial” ini untuk mampu memberikan inovasi pembelajaran yang terjadi di dalam kelas menyesuaikan dengan pola belajar peserta didik.

“Dosen-dosen perlu melakukan pemutakhiran model dan inovasi pembelajaran untuk mahasiswa, dalam menghadapi perubahan zaman ini,” jelas  Prof. Dr. Ir. Murhadi, M.Si.

PEKERTI batch 2 tahun 2019 ini dilaksanakan dalam rangka membekali dosen untuk menghadapi berbagai perubahan zaman. Untuk itu, dosen memerlukan pemutakhiran model pembelajaran agar tidak ketinggalan zaman, akan tetapi tetap bisa menyampaikan materi dengan baik.

“Hal yang ingin dicapai dari kegiatan ini adalah agar dosen di lingkungan  Universitas Lampung mampu mengantarkan mahasiwa untuk lulus dengan memiliki daya saing yang baik, mahasiswa mampu berkompetisi dalam dunia kerja, selain itu dosen juga harus mampu membekali dosen dengan karakter khusus yaitu memiliki jiwa Bela Negara,” jelas Ketua LP3M Unila sekaligus dosen Fakultas Pertanian tersebut.

Lebih jauh Prof. Dr. Ir. Murhadi, M.Si. juga menyampaikan bahwa target pelatihan dosen ini adalah bagaimana agar mahasiswa mampu bersaing dalam era 4.0. Ke depan arah pendidikan Universitas Lampung tidak hanya fokus pada keilmuan, akan tetapi juga difokuskan agar mahasiswa mampu belajar sepanjang hayat dengan model-model pembelajaran yang mampu menangkap segala perubahan zaman.

“Kita harus mengubah pola pikir mahasiswa, tidak hanya persoalan ilmu pengetahuan akan tetapi juga mempersiapkan perilaku mahasiswa agar kreatif dan bisa menjawab berbagai persoalan,” ungkap Prof. Dr. Ir. Murhadi, M.Si.  dihadapan 45 peserta yang terdiri dari perwakilan dosen di setiap fakultas.

Dosen harus mampu menanamkan nilai-nilai pada mahasiswa dan juga menanamkan kedewasaan emosional. Penguasaan keterampilan ini lebih banyak untuk penguatan pola pikir mahasiswa. Pembelajaran haruslah berorientasi pada pelayanan dan membangun nilai-nilai dalam proses pembelajaran.

Dalam kesempatan tersebut Rektor LP3M Universitas Lampung berpesan agar dosen bisa bersama-sama menggali secara kreatif model-model pembelajaran, sebelum tampil di depan kelas. Dosen harus memiliki keterampilan, kreativitas, dan inovasi untuk bisa tampil di depan mahasiswa dengan baik.

Sementara itu salah satu pemateri dalam PEKERTI Universitas Lampung  Batch 2 kali ini , Dr. Abdurrrahman, M.Si. menyampaikan bahwa PEKERTI pada dasarnya adalah pemutakhiran model pembelajaran dalam rangka menyikapi perkembangan revolusi industri 4.0, karena zaman yang berubah dan semakin maju.

“Kita harus bersiap-siap menghadapi masa depan, oleh sebab itu dosen harus bisa mengajar untuk Anak-Anak Masa Depan, dosen walaupun sudah memiliki pengalaman dalam mengajar akan tetapi teknik dan kecakapan mengajar harus selalu ditingkatkan karena tuntutannya berubah,” ujar Dr. Abdurrrahman, M.Si.

Dalam kesempatan itu, Abdurrahman juga menyampaikan bahwa teknik mengajar dengan memanfaatkan kemajuan teknologi, tetapi tidak menggantikan seutuhnya seperti mesin. Nilai-nilai tidak bisa diotomatisasi, karena nilai-nilai hanya bisa melalui kreativitas dosen.

“Anak-anak masa depan ini memiliki sifat yang paham dengan teknologi, mereka bergaul dengan platform-platform, sehingga kalau belajar secepat baca whatsapp, semenarik nonton youtube, dan sindah instagram. Jadi kalau dosen mengajar dengan membosankan maka pesan-pesan tersebut tidak akan menarik bagi mahasiswa,” jelas dosen Fakultas Keguruan dan ILmu Pendidikan (FKIP) Unila tersebut. (PF1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Help-Desk